
Pekan lalu, Gorki Aguila, pemusik paling kontroversial Kuba, ditahan. Dia didakwa menampilkan perilaku yang ‘secara sosial berbahaya’. Aguila terkenal karena kritiknya yang pedas terhadap komunisme. Dan, kritikan, bukanlah termasuk reformasi dalam cara pandang Presiden Raul Castro.
"Kita tidak boleh terima komunisme sialan ini. Apabila harus dibayar dengan larangan pentas di mana-mana, maka akan saya bayar," kata Aguila dalam film dokumenter Belanda, Cuba Rebelion.
Ia memang dianggap sebagai generasi muda Kuba yang kritis. Begitu beraninya hingga tak ada yang berani mengundangnya untuk pentas pada konser atau festival. Tentu, mereka takut dicekal pemerintah Kuba. Apalagi, sebelumnya Aguila sudah pernah masuk bui selama empat tahun, pada 2003.
Simbol untuk bandnya pun terbilang provokatif. Simbol itu melengkapi nama bandnya yang sudang ‘miring’, Porno untuk Ricardo. Aguila memplesetkan palu arit yang simbol komunisme menjadi zakar dan arit. Dalam sebuah lagu yang berjudul Commandan, ia menyebut Castro sebagai Comandante Pinga atau komandan zakar. Bahkan di latar belakang klip video-nya, terlihat Castro dengan bibir seperti dubur.
"Semua ideologi omong kosong itu, ideologi yang kaku ini bertujuan menutup-nutupi sebenarnya mereka tidak mampu memberi makan rakyat," Aguila mengimbuhkan. Ancaman hukumannya cukup berat, setara dengan tuduhan ‘berbahaya bagi kehidupan sosial’. Banyak orang yang sudah ditangkap karena melakukan aktivitas yang tidak disukai negara.
Aguila hanyalah seorang dari sekian banyak musisi yang tidak takut membuat kontroversi. Mereka tak segan mengkritik pemerintah melalui lirik lagu. Meskipun tak seekstrim musisi Kuba tersebut, beberapa musisi juga tercatat dalam lembaran karier musik yang sama dengannya.
Salah satunya, rapper Inggris kelahiran Sri Lanka, MIA. Nama aslinya Maya Arulpragasam. Baru-baru ini AS melarang dirinya masuk ke negara tersebut karena album perdananya cukup kontroversial. Nama albumnya saja, Arular, ia ambil dari nama ayahnya yang seorang pejuang untuk Tamil Tigers, grup teroris yang menyerang tentara Sri Lanka selama 30 tahun.
Bahkan, ada sebuah lagu bertajuk Pull Up The People yang jika liriknya diterjemahkan akan berbunyi, “saya punya bom dan saya akan meledakkanmu,” lengkap dengan suara rekaman ledakan bom. Banyak dari lagu tersebut memuat lirik-lirik yang mendukung revolusi perjuangan.
“Ia memang selalu mengatakan apa yang ingin ia katakan,” ujar seorang pekerja di label rekaman XL yang menaungi MIA. Ia menjelaskan beberapa hit kontroversi MIA dalam album tersebut. Misalnya, singel keduanya yang beredar di Inggris, Sunshowers, berkisah mengenai pelaku bom bunuh diri di Sri Lanka. Lirik lagu tersebut membuat MTV melarang peredaran videonya di AS.
Fakta tersebut membuat rencananya bekerja dengan musisi ternama AS seperti Missy Elliott, Timbaland, dan Kanye West, terhenti. Tentunya hal ini menjadi suatu pukulan yang besar bagi kariernya, mengingat ketiga orang tersebut memberikan jaminan karya-karya yang tiada duanya. Akibatnya, perusahaan rekaman MIA pun kelabakan, pusing memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali kesempatan tersebut.
“Kalau gagal sama saja dengan membuang jutaan pound ke saluran pembuangan,” lanjut si karyawan.
Beberapa nama musisi memang cukup kontroversial. Namun tidak semuanya berani mengkritik pemerintahan. Sebab, banyak yang khawatir dengan masa depan karir mereka. Banyak cara lain untuk menjadi terkenal. Jika bisa dengan jalan damai, mengapa tidak? [I4]