Jumat, 31 Oktober 2014 | 01:13 WIB
Follow Us: Facebook twitter
South to South Film Festival 2012
Surat Cinta Buat Sang Prada Sang Jawara
Headline
South to South Film Festival 2012 - IST
Oleh: Arief Bayuaji
artis - Senin, 27 Februari 2012 | 14:30 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Film Surat Cinta Buat Sang Prada jawara film kompetisi dokumenter terbaik South to South (StoS) Film Festival Award.

Berdasarkan siaran pers yang diterima INILAH.COM, Minggu (26/2) malam, dewan juri yang terdiri dari Arief Ash Shiddiq, Darwin Nugraha dan Nanang Sujana di Goethe Insitit, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/2) malam, sepakat Surat Cinta Buat Sang Prada layak sebagai film kompetisi dokumenter terbaik. Dasarnya, film fokus pada permasalahan yang disampaikan, dipaparkan sederhana namun mampu membawa layer-layer persoalan dibalik peristiwa yang terkandung.

"Surat Buat Sang Prada merupakan buah karya Wenda Maria Imakulatas Tokomonowir, yang menceritakan kisah nyata – dalam sebuah surat video dari seorang perempuan Papua Maria ‘Eti’ Goreti untuk seorang Prajurit Indonesia, Samsul Bacharudin, yang pernah bertugas di kampungnya, Bupul. Bupul terletak di perbatasan Indonesia-PNG. Mereka memiliki relasi yang berbuah seorang anak perempuan. Samsul mentelantarkan Eti ketika ia mengandung. Setelah lahir, Eti pun berjuang seorang diri untuk menghidupi ‘si anak kolong’ dibawah diskriminasi dan caci maki warga. Kendati menjadi kontroversial di kampungnya, Eti tetap berharap agar sang prajurit bisa kembali kepadanya untuk menemui putri mereka: Aku akan terus menunggu untuk Anda, Samsul. Aku tidak peduli apa yang orang katakan…” Demikian salah satu cuplikan film tersebut.

Dewan juri juga memberikan penghargaan Special Mention untuk film dokumenter pendek yang berjudul Sop Buntut, karya sutradara Deden Ramadani. Film tersebut dianggap dewan juri dekat dengan subyek, menguasai permasalahan dengan riset matang. Persoalan yang diangkat juga merupakan persoalan mendasar tentang masa depan bangsa namun disajikan dengan ringan.

Sementara Film Dokumenter TV Terbaik diberikan kepada Film Demi Goresan Kapur, produksi DAAI TV, karya Ari Trismana. Film tersebut mampu memilih subyeknya dengan tepat dalam memotret semangat tanpa batas, tanpa mengeksploitasi kemiskinan sebagai barang dagangan. Film jelas mengkritik pemerintah, tanpa menggebu-gebu tapi sangat menohok.

Untuk kompetisi film fiksi, Dewan Juri yang terdiri dari Adrian Jonathan Pasaribu, Perdana Kartawiyuda dan Catharina Dwihastarini menyatakan tak ada yang terpilih di festival IV-2012 kali ini. Menurut dewan juri karya-karya yang telah diterima belum ada yang terasa unggul dibandingkan dengan lainnya. Namun juri telah menetapkan karya film fiksi sebagai Special Mention, yakni Jakarta 2012 dan Kalung Sepatu.

Film Rumah Multatuli karya Sapto Agus Irawan, produksi DAAI TV terpilih menjadi Film Dokumenter Favorit pengunjung South to South Film Festival 2012. Sedangkan Film Favorit Pilihan Penonton Fiksi, juri memilih Layar Kacau.

Terpilih juga lima karya esai terbaik dalam Kompetisi Esai Semangat Tanpa Batas. Lima karya esai terbaik ini disaring oleh Dewan Juri yang terdiri dari Mujtaba Hamdi (MediaLink), Imam Shofwan (Yayasan Pantau) dan Siti Maimunah (StoS Film Festival), dari 72 karya esai yang masuk, kemudian dinilai dan dipilih 30 nominator untuk dinilai lebih lanjut. Penilaian pemenang meliputi orisinalitas, topik, subtansi, gaya tulisan dan pertimbangan pilihan pembaca. Dinilai sepanjang 8 – 18 Februari 2012 oleh 1160 pembaca yang telah memberikan pilihannya.

Lima karya esai terbaik tersebut, Antara Pemuda, Pangan, dan Perubahan, karya Detha Arya Tifada; Sekantung Ubi yang Mencipta Energi, karya Azmy Basyarahil; Berani Melaju Kencang, karya Fredy Wansyah; Perempuan-Perempuan Tanpa Batas, karya Ganar Adhitya; dan Kampung Bathik Banyumas: Gerakan Glokalisasi Kolektif, karya Siti Nur Azizah.

Untuk lomba foto Semangat Tanpa Batas” yang diikuti 16 foto yang diunggah ke fan page, terjaring 3 nominator yang mendapatkan “like” terbanyak. Foto karya Nuzulul Dina terpilih sebagai foto favorit pengunjung fan page.

Ferdinand Ismael, Direktur Festival menyatakan, "Semangat tanpa batas tidak berhenti di sini, karena smua film-film festival ini akan dibawa ke kampung-kampung, pelosok, sekolah dan kampus. Kami ingin film-film ini menjadi filmnya rakyat. Mencerdaskan dan memberikan inspirasi untuk tumbuhnya gerakan-gerakan solidaritas yang lebih luas lagi. Di sinilah inti jiwanya dari South to South Film Festival,” jelas Ferdinand.

Penutupan South to South Film Festival tersebut juga dihadiri sejumlah aktivis, para pembuat film independen dan juga penampilan musisi Glenn Fredly. [aji]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA