Minggu, 31 Agustus 2014 | 11:15 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Cornelia Agatha Ingin Memasyarakatkan Teater
Headline
Cornelia Agatha - IST
Oleh: Ferry Noviandi
artis - Sabtu, 14 April 2012 | 06:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Cornelia Agatha benar-benar jatuh cinta dengan teater. Lia, begitu ia disapa, ingin memasyrakatkan teater dan memperkenalkan teater ke semua lapisan.

Tak tanggung-tanggung, sebagai awal cita-citanya itu, Lia akan menggarap teater jenis monoplay berjudul 'Korla' yang akan tayang pada 21 April mendatang. Lia tidak saja bermain dalam teater tersebut, tapi ia juga menjadi sutradara dan produser.

Berikut petikan wawancara INILAH.COM dengan Cornelia Agatha yang namanya terkenal lewat sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan'. Bagaimana ambisi istri Sonny Lalwani yang memiliki dua anak kembar, Tristan dan Makaila (5) ini di dunia teater, mengapa ia berani dan begitu yakin menyutradarai pementasan teater meski teater kalah populer dari film dan sinetron.


Kabarnya tengah menggarap monoplay 'Korla', monoplay itu apa sih?

Monoplay itu sama dengan monolog. Tapi kalau monolog itu, si tokoh hanya sendirian, benar-benar mengeksplore si tokoh. Tapi kalau monoplay itu kita bisa taruh segala macam di situ. Ada musik, nyanyian, tarian, banyak ornamen pokoknya. Saya nyanyi dan nari juga di sini.

Saya Didukung penari, ada penyanyi juga seperti Tompi, ada model. Tapi tetap, sebagai aktor, fokusnya ke aku. Kalau pun ada tokoh-tokoh di situ, mereka dilarang berdialog.

Monoplay ini pertama di Indonesia?

Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau saya bilang ini yang pertama, mungkin orang lain pernah ada yang membuat seperti ini. Saya tidak bisa mengklaim.

Ceritanya tentang apa?

Korla ini sebenarnya nama tokoh. Jadi dia ini, dia bercerita, wanita yang senang berimajinasi. Yang diimanjinasikan dia itu percintaannya yang selalu gagal dan selalu menjadi korban laki-laki. Sampai akhirnya dia menghadapi masalah kejiwaan. Saya nggak kasih tahu endingnya, itu nanti jadi surprise.

Cerita ini dari Lia sendiri?

Ceritanya dari penulis (Tommy F. Awuy), aku ngobrol-ngobrol sama penulis. Dia tanya mau cerita apa. Aku pikir kalau cerita yang ringan itu ya percintaan. Tapi aku mau yang ringan, tapi yang berbobot. Dia kasih cerita begini begitu, lalu aku tambahkan apa. Judulnya 'Korla', itu dari nama aku. Jadi ceritanya tentang kehidupan percintaan. Korla bisa dibilang korban laki-laki.

Bagaimana ceritanya mau dan berani menyutradarai teater?

Ini nekad banget sebenarnya. Sebagai sutradara, saya masih anak bawang banget. Tapi saya didukung banyak orang yang memang berkompeten di sini. Saya juga masih diajarin dengan pelatih akting. Awalnya sih saya nggak pede. Tapi kalau nggak pernah berani mencoba, kapan kita bisa tahu. Ini show tunggal dan pertamakali saya buat. Saya ingin membuat sesuatu intuk diri saya sendiri dan orang banyak.

Saya ngotot banget buat ini. Obsesi saya adalah membuat dunia teater itu bisa jadi gaya hidup, entertain. Saya buat yang ringan agar semua orang bisa menikmatinya. Target audisi yang mungkin ngga terlalu mengerti teater, jadi mau nonton. Tempatnya juga bukan tempat yang biasa untuk tempat teater, tapi saya pilih yang di public space.

Berapa lama mempersiapkan ini?

Persiapannya dua tahun. Tadinya mau lebih cepat, tapi diundur, karena saya pingin hasil yang maksimal. Durasinya nggak lama, cuma satu jam lebih. Tapi di sini saya nyanyi, menari, baca puisi, jadi energinya cukup terkuras.


Paling susah dalam penggarapan proyek ini?

Paling susah itu energi dan pikirian. Sebagai pemain saya nyaman karena harus fokus bermain saja. Tapi sekarang, saya juga konseptor, jadi ibu. Apalagi saya juga harus memikirkan penjualan tiket.

Mengapa bisa begitu mencintai teater?

Awalnya itu di tahun 1997, saat itu ikut main teater judulnya 'Bayi di Aliran Sungai'. Awal main teater takut banget, kayaknya susah, bisa nggak yah. Tapi setelah main ternyata nggak sesulit yang dibayangkan.

Malah menurut saya tidak sesulit ketika di depan kamera. Kalau di atas panggung, kita bisa bebas mengekspresikan diri. Di teater itu kita terbuka untuk bisa menjadi apa saja. Di teater, kekayaan aktor ada di situ sebenarnya. Jujur, saya lebih suka teater di banding film atau sinetron. Teater lebih menantang. Eksploitasi pemainnya lebih baik.

Sempat dimarahi?

Saya merasakan dimarah-marahi sutradara. Kalau di sinetron kan kita dimanja. Tapi di teater, ketika kita masuk Bulungan, siapa lu. Aku merasakan betul gemblengan Nano R Riantiarno. Di dunia ini, saya butuh mental sebagai pemain, dan aku mendapatkannya di teater. Saya lebih menghargai proses dan menjadi diri sendiri.

Tidak mau main film lagi?

Kemarin karena anak-anak juga masih kecil, jadi sulit untuk menerima tawaran film, apalagi sinetron. Teater Koma saya masih aktif, jadi nggak bisa bagi waktu lagi. Mungkin nanti lagi lah.

Dukungan keluarga bagaimana?

Keluarga sangat mendukung. Bahkan suami saya ikutan jadi produser juga di sini. Tapi jujur dengan anak cukup mengganggu konsentrasi saya saat latihan. Kalau saya mau jalan latihan, anak mau ikut, tapi saya kasih pengertian. Sedih juga sih, tapi lama-lama mereka mengerti.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
ical wrisaba
Senin, 16 April 2012 | 13:54 WIB
salam budaya.. senang sekali membaca kata Memasyarakatkan teater... mengenai produksi monoplay..alhamdulilah 2010 di aula STMIK MDP palembang saya pernah menggarap pementasan serupa dengan judul kutu di kepala suamiku karya Ucu Agustin...hanya saja unsur menyanyi yg tidak saya pakai....saat itu saya tidak memberi nama apa2 pada garapan itu.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER