Sabtu, 18 Mei 2013 | 16:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Peraih 3 Piala Citra di Film 'Fiksi'
Mouly Surya, Setelah Menghilang Selama 4 Tahun
Headline
Mouly Surya - Istimewa
Oleh: Ferry Noviandi
artis - Sabtu, 4 Agustus 2012 | 06:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Kehadiran Mouly Surya sebagai sutradra cukup mengejutkan ketika ia berhasil menyabet tiga Piala Citra untuk film Fiksi. Namun setelah film 'Fiksi', Mouly menghilang.

Empat tahun menghilang, ibu satu anak ini rupanya tak lantas kehilangan gairahnya di film. Mouly saat ini tengah menggarap film yang judulnya lumayan panjang, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta. Film ini digadang-gadang bakal meraih kesuksesan, seperti film Fiksi. Film ini juga kabarnya akan dibawa ke berbagai festival film internasional.

INILAH.COM berkesempatan berbincang dengan wanita kelahiran 10 September 1980 yang memiliki nama lengkap Nursita Mouly Surya itu. Berikut petikan wawancaranya:

Kemana saja, selama empat tahun ini seperinya menghilang?

Setelah Fiksi saya memang belum bikin apa-apa lagi selama empat tahun. Tahun 2008 itu saya hamil untuk pertama kali dan melahirkan seorang putri di tahun 2009.

Bisa dibilang saya sibuk menjadi seorang Ibu untuk pertama kali. Saat itu, ada banyak sinopsis yang ditulis, tapi belum ada yang membuat saya resah dalam hati, nggak bisa diam ingin membuatnya.

Kapan merasa harus kembali ke film?

Fiksi waktu itu berproses di dalam diri saya juga sampai empat tahun dari idenya pertama kali muncul ketika saya masih kuliah. Setelah film itu selesai, rasanya energi saya sempat habis sebentar, sudah tercurahkan semua di Fiksi pada saat itu. Untuk membangun energi baru, saya perlu jatuh cinta dulu. Perlu jatuh cinta dengan ide film baru.

Tidak sayang meninggalkan karir cukup lama?

Memang agak disesalkan kalau saya baru jatuh cinta lagi dengan film kedua saya ini setelah sekian tahun. Saya agak menyesali hal tersebut. Saya ingin bisa lebih produktif lagi.

Tapi meskipun 'menghilang' sebenarnya saya masih berada di lingkungan film kok. Saya pernah mengerjakan FTV untuk SCTV dalam program 20 Wajah Indonesia itu, menjadi juri festival, pembicara di workshop dan sejak tahun lalu saya juga menjadi pengajar part timer di Binus International film school.

Sehari-hari saya pakai untuk menulis skenario film kedua ini yang memang skenarionya sekarang saya tulis sendiri. Juga awal tahun ini saya sudah memulai riset untuk yang insya Allah akan menjadi film ketiga saya, The Fandom Diary.

Apa artinya mendapatkan tiga Piala Citra dari film 'Fiksi' untuk karir Anda sendiri?

Mungkin dengan memenangkan piala-piala tersebut, Fiksi jadi lebih banyak ditonton orang, meskipun lewat jalur lain seperti misalnya di DVD/VCD.

Piala-piala itu juga telah memberikan saya kesempatan-kesempatan, yang bilamana piala-piala tersebut tidak ada, maka kesempatan tersebut tidak akan datang, lepas dari urusan saya mengambil kesempatan tersebut atau tidak.

Apakah prestasi tersebut justru menjadi beban untuk Anda, untuk membuat karya lebih baik lagi?

Tidak juga. Saya rasa kalau setelah membuat satu karya, adalah naluri manusia untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi di lain waktu. Lepas urusan mau dapat prestasi ataupun tidak.

Ceritakan soal film terbaru Anda, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta

Film ini adalah sebuah cerita tentang kemungkinan-kemungkinan cinta yang dapat terjadi antara beberapa siswa tuna netra, seorang tuna rungu dan juga orang-orang 'awas'

Kesulitan membesut film ini?

Mungkin yang paling sulit adalah di tahap penulisan. Saya mendapat ide film ini itu bagaikan puzzle, dapatnya sepotong-potong. Untuk akhirnya menemukan 'bentuk' yang sesuai bisa dibilang cukup sulit. Lagipula, ini juga adalah pertama kalinya saya menulis skenario film sendirian.

Ketika menulis saya mencoba untuk menjauhkan dulu 'penyutradaraan' dan konsentrasi ke skenario. Tapi ketika di lapangan, sayapun juga tidak berhenti merevisi penulisan saya sendiri. Membuat interpretasi lain dari yang sudah saya tulis sendiri.

Tetapi, proses syuting kemarin sangat menyenangkan, padahal biasanya syuting itu buat saya selalu stress. Tapi kemarin didukung oleh team yang solid, kami semua jadi 'hidup' bersama dalam film ini, baik kru maupun pemain-pemain film ini.

Kabarnya film ini akan diikutsertakan dalam festival-fesival film dunia?

Saat ini sih belum tahu. Saat ini kami masih mencari dana untuk pasca produksi, film juga belum selesai editing. Untungnya saya dan produser-produser saya, Tia Hasibuan dan Parama Wirasmo, kami sudah saling mengerti dan satu visi tentang film yang mau dibuat ini.

Jadi, kita lihat saja nanti. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Untung Sukaei
Kamis, 9 Agustus 2012 | 12:44 WIB
Orang berbakat dan produktif selalau punya jatidiri dan tidak ikut arus. Mbak Mouly adalah sosok pribadi yang percaya diri, sederhana, visioner dan "diam-diam" produktif. Selamat ya atas momongannya juga disamping Piala Citranya....TRIPLE THUMBS
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.