Jumat, 19 September 2014 | 22:48 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Goyang Indonesia untuk Dunia (1)
Dangdut Sebentar Lagi Mendunia
Headline
Trie Utami
Oleh: Babyrock
artis - Sabtu, 20 September 2008 | 09:09 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Musik dangdut mendunia? Boleh jadi merupakan suatu harapan atraktif yang patut didukung oleh siapa saja.

Meksi tidak jelas benar asal mula musik dangdut yang kini kerap kita dengarkan, toh genre musik ini memiliki potensi mendunia. Itu artinya, dangdut bisa seperti reggae dari Jamaika, atau samba dari Brazil. Jadi bukan tidak mungkin dangdut mendunia? Apa bedanya reggae, samba, dengan dangdut?

Bayangkan prospeknya. Bila seluruh dunia keranjingan dangdut, maka ada permintaan penyanyi dan pemusik dangdut yang besar sekali. Berapa jumlah kafe, bar atau music lounge di dunia? Hal itu sudah kelihatan, paling tidak melalui sebuah program yang diberi judul Dangdut in America.

Program yang digelar oleh New Sound Release (NSR) Productions itu memberikan kesempatan kepada para bule di Amerika mengikuti audisi musik dangdut. Penyanyi Trie Utami, yang ditugasi menjadi salah satu pamasok ide dalam acara itu mengungkapkan, animo para warganegara Amerika ternyata cukup tinggi untuk mengikuti audisi acara tersebut.
"Istimewanya, mereka mengenal dangdut sebagai musik Indonesia. Ini artinya, sekaligus promosi tentang Indonesia juga," ungkapnya dalam sebuah perbincangan.

New Sound Release (NSR) Productions yang diketuai Rissa Asnan memproklamasikan Dangdut in America (DIA) dengan meluncurkan program tayangan di TVRI dan proyek album rekaman kompilasi penyanyi dangdut asal negara Adikuasa.

Proyek akbar ini bisa terbilang membagi laba bagi Indonesia pula, karena diproduksi di Indonesia dan Amerika Serikat (AS) dengan sekaligus versi bahasa Inggris.

"Saya berterima kasih kepada PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) yang berpartisipasi dengan memberikan lagu-lagu dangdut ciptaannya. Tanpa mereka, apalah artinya saya?!" ujar Rissa Asnan usai menerima penghargaan MURI atas prakarsanya menyelenggarakan DIA serta mengaudisi penyanyi dangdut AS berbakat dalam format kontes.

Dangdut in America dalam album rekaman, dijanjikan Rissa, bakal beredar berbarengan di Indonesia dan AS pada awal November mendatang.

Salah satu penyanyi yang suaranya bakal menghiasi album Dangdut in America adalah pemenang utama kontes DIA yakni Arreal Hank Tilghman. Pemuda kulit hitam ini demikian tekun mendalami kemampuan bercengkok dangdut, dan konon sempat diajari artis dangdut Thomas Djorghi.

"Saya pertama kali ketemu dengan Arreal di Amerika dan tidak menyangka kalau ternyata dia bisa menyanyi dangdut. Lalu saya mengajaknya ke Jakarta. Saya pernah berduet dengan Arreal sewaktu berlangsung Asian Festival di Philadelphia. Kami saat itu menyanyikan Teka Teki Cinta dalam versi bahasa Inggris," kenang Thomas Djorghi.

Arreal terbilang berjasa mengenalkan sedapnya irama dangdut di pentas hiburan di negaranya dengan antara lain lagu Kegagalan Cinta dan Darah Muda, seperti yang juga dipertontonkannya di Indonesia saat Rhoma Irama merilis dua single dangdut berbahasa India, beberapa waktu lalu.

Saat peluncuran program tayangan DIA untuk TVRI di kediaman Ketua DPR Agung Laksono akhir pekan lalu, Arreal berbangga karena menerima penghargaan MURI berkat jasa-jasanya bagi promosi dangdut di tingkat dunia.

Di awal tulisan disebutkan, seperti juga diungkapkan Trie Utami dalam sebuah perbincangan dengan penulis, susah untuk mencari tahu asal mula musik dangdut yang sekarang ini kita dengar.
"Yah ada yang bilang dari India. Mungkin ada benarnya, tetapi kita di Melayu juga punya kan?" ungkap Trie.

Berdasarkan beberapa literatur, asal mula penamaan genre dangdut merupakan ungkapan untuk cemooh. Said Effendi (almarhum), macan pemusik Melayu pelantun Semalam di Malaysia, misalnya, sangat tak senang dengan istilah dangdut.
"Istilah itu muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti," katanya.
Istilah 'dangdut' pada mulanya memang populer sebagai ejekan sebagian musikus rock terhadap jenis musik yang berakar pada musik India, Melayu Deli, dan gambus itu.
Namun, menurut pengamat musik Bens Leo, boleh jadi Rhoma Irama yang sudah lebih dari 30 tahun silam, gigih memperjuangkan bahasa musik dangdut adalah musik asli Indonesia. Ia dengan caranya sendiri bangga terhadap pelekatan istilah dangdut bagi jenis musiknya.
Lewat syair lagunya yang berjudul Dangdut, lagu yang tercipta pada awal 1970-an, tetapi sampai sekarang masih sering dibawakan oleh penyanyi dangdut generasi baru, Rhoma mengisahkan adanya sejenis musik dengan irama Melayu yang sungguh sedap sekali: "... sulingnya suling bambu/gendangnya kulit lembu/dangdut suara gendang/rasa ingin berdendang...."
Dan sejak itu, tak bisa lain, musik yang melahirkan rasa ingin bergoyang ini bernama dangdut.
Namun, ada juga yang berpendapat kalau istilah dangdut lahir karena dengaran dari permainan tabla atau kendang. "Karena permainan kendang mengeluarkan suara duuuttt... maka disebut musik dangdut," ujar Fajar Budiman, pengamat musik lainnya. [Bersambung/L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER