Rabu, 17 September 2014 | 12:28 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Thomas Djamaluddin
Jatuh Cinta dengan Bintang dan UFO
Headline
Foto: Istimewa
Oleh: Ellyzar Zachra PB
artis - Sabtu, 20 November 2010 | 10:27 WIB

INILAH.COM, Jakarta- Ketertarikannya pada bintang dan UFO, didukung keaktifannya menulis di pelbagai media, menjadikan Profesor Thomas Djamaluddin pantas dijadikan rujukan informasi untuk bidang astronomi.

“Sejak kecil saya memang suka dengan objek bersinar di langit malam hari. Tampak menarik dan penuh misteri. Karenanya, di ITB juga saya memilih astronomi,” ujar Peneliti senior astronomi dan astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) itu kepada INILAH.COM.

Pria kelahiran Purwokerto, 23 Januari 1962 ini memang tertarik dengan UFO sejak kecil. Saat SMA pada 1979, ia bahkan pernah menulis pendapatnya soal objek tidak dikenal itu dari sudut pandang agama.

“Saya seringkali membaca soal UFO dan tertarik bagaimana pengetahuan soal semesta itu saling terkait satu sama lain. Ini menyenangkan buat saya,” kata ayah dari tiga putera ini.

Di kalangan ilmuwan, Thomas Djamaluddin terkenal sebagai tokoh yang aktif menyebarluaskan informasi soal penanggalan bulan. Ia tak segan membagi informasi soal astronomi kepada media atau masyarakat umum, baik melalui telepon, blog atau jejaring sosial. “Informasi itu untuk dibagi biar berguna. Kalau saya tahu, untuk apa ditutup-tutupi. Masyarakat berhak untuk cerdas,” ujar pria dengan suara berat ini.

Konsistensinya untuk menyebarkan ilmu astronomi di masyarakat terlihat dari banyaknya informasi di blog atau akun Facebook miliknya. Ia membuat beberapa kategori di blog seperti Astronomi-Sains Antariksa, Hikmah, Hisab-Rukyat, Sains Kebumian dan Sains-Quran. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya.

Bidang kedirgantaraan juga sempat diikuti di berbagai negara, seperti Australia, China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand. Sedangkan untuk bidang ke-Islaman, ia pernah mengikuti konferensi World Assembly of Muslim Youth, Malaysia.

Menurutnya, dunia astronomi yang mencakup informasi ilmiah, pada dasarnya bisa diterapkan dengan mudah di masyarakat. Ia pun mengambil contoh penanggalan bulan untuk Hari Raya Islam, yang diinlai tidak lagi sesulit dulu. “Sudah ada software astronomi yang memudahkan. Tergantung kita mau menggunakannya atau tidak,” kata Thomas yang sempat menjabat sebagai anggota Badan Hisab Rukyat sekaligus kepala LAPAN.

Putra dari Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah yang berasal dari Cirebon ini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Cirebon. Namun, hal ini tidak membuat Thomas merasa ‘kalah’ dibandingkan pemuda asal kota lainnya. Bahkan, pada 1981, Thomas diterima di ITB jurusan astronomi melalui jalur tanpa tes, semacam PMDK.

Usai menyandang gelar sarjana pada 1986, Thomas kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung dan menjadi peneliti antariksa. Sedangkan pada 1988–1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antarbintang dan pembentukan bintang.

Terkait pekerjaannya, Thomas pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa, dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN. Suami dari Erni Riz Susilawati ini juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang.

Saat ini ia juga menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI dan BHR Daerah Provinsi Jawa Barat.

Meskipun banyak pengalaman, Thomas tetap rendah hati. Ia mengakui bahwa ilmu akan selalu berkembang di masa depan sehingga informasi yang ia punya saat ini bisa jadi salah. Namun, ia menerima segala saran dan kritik atau informasi baru dengan tangan terbuka. “Segala sesuatunya pasti berubah. Begitu pula dengan dunia astronomi. Saya selalu terbuka dengan teori dan informasi baru. Mari kita diskusikan bersama,” katanya ringan. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER